Untukmu yang bernama......
jaluran rasa itu berbaur ria
tawa hela mengosong duka
secalit tinta melakar rendangnya pepohon
melentur curiga
menyalur sepi ke muara
sejenak
ketika bayu pagi berhembus
menyapa pipi lembut
dingin resah berlagu
gadaian janji berombak
tamu bertamu....
rindu tak bersahut
terabai rasa terbiar
pergi tanpa pesan
menghilang
bersama mayamu
alpaku terbuai
dikejutkan lagu itu
senandung hati yang pilu
Jumaat, 22 Ogos 2014
antara tragedi dan nyataku
hari ini satu negara berkabung....tragedi MH17 . al-fatihah untuk mereka yang terlibat dalam tagedi itu. saat di kaca televisyen memaparkan jenazah di usung turun dari kapal terbang sehinggalah pengkebumian selesai, seluruh negara merasa sayu dan hiba. Fitrah kejadian manusia, rasa sedih pada kehilangan.
Saat di mana aku melalui detik kehilangan yang nyata, masih jelas tergambar seraut wajahnya kali terakhir ku tatap dan ku kucup dahinya. Sesungguhnya aku bersyukur padaMu ya Allah kerna mengizinkan aku di sisinya sehingga ke akhir hayatnya, sehingga tubuhnya di pisahkan dariku dalam liang lahat. Berbisik aku padanya meskipun ku tahu segalanya hanya bisikan nyata.....abang, hanya di sini manja dapat menghantar abang pergi. Satu saat manja juga akan bersama abang di sana, pergilah dengan tenang. Sesungguhnya ku lepaskan pemergianmu dengan redho. Terima kasih atas segalanya....manja amat menyintaimu.
Sejurus jasadnya hilang dari pandanganku......bagai gelap pandangan mataku, rebah di sisi pusaramu...aku kini sendirian. entah dari mana ia akan bermula.
kini lebih 3 tahun masa berlalu.....aku masih sendiri. mencatur hidup berbekal hati yang sering terluka. Tak sekuat mata kasar melihat upayaku. Jiwa yang rapuh ini sering diuji. Entah sampai bila tertangkis serpihan hiba yang terpercik. Aku redho dalam pasrahku.
Saat di mana aku melalui detik kehilangan yang nyata, masih jelas tergambar seraut wajahnya kali terakhir ku tatap dan ku kucup dahinya. Sesungguhnya aku bersyukur padaMu ya Allah kerna mengizinkan aku di sisinya sehingga ke akhir hayatnya, sehingga tubuhnya di pisahkan dariku dalam liang lahat. Berbisik aku padanya meskipun ku tahu segalanya hanya bisikan nyata.....abang, hanya di sini manja dapat menghantar abang pergi. Satu saat manja juga akan bersama abang di sana, pergilah dengan tenang. Sesungguhnya ku lepaskan pemergianmu dengan redho. Terima kasih atas segalanya....manja amat menyintaimu.
Sejurus jasadnya hilang dari pandanganku......bagai gelap pandangan mataku, rebah di sisi pusaramu...aku kini sendirian. entah dari mana ia akan bermula.
kini lebih 3 tahun masa berlalu.....aku masih sendiri. mencatur hidup berbekal hati yang sering terluka. Tak sekuat mata kasar melihat upayaku. Jiwa yang rapuh ini sering diuji. Entah sampai bila tertangkis serpihan hiba yang terpercik. Aku redho dalam pasrahku.
Khamis, 21 Ogos 2014
muara hati terkunci lagi
suram dan sepi
gambaran kala ini
tika dibiarkan
tanpa hirau di hati
Tuhan ku....
izinkanlah aku bersuara padaMu
tentang luka yang makin parah
mengharap redho Mu
meminta ikhsanMu
........
luka toresan sebuah rasa
begitu perit dirasa
izinkanlah
aku berdiri semula
dalam genang gelodak hati
dalam keruhnya muara rasa
cuba ku rawat
dalam ngilu ukiran jiwa
aku pasrah kini
izinkanlah aku pergi
meninggalkan sekelumit rasa berbaki
agar aku mampu tersenyum lagi
dalam jejak belantara hati
yang dipermainkan
leraikanlah rasa ini
sesungguhnya aku terdampar
dalam pilu mengharap ihsanMU
gambaran kala ini
tika dibiarkan
tanpa hirau di hati
Tuhan ku....
izinkanlah aku bersuara padaMu
tentang luka yang makin parah
mengharap redho Mu
meminta ikhsanMu
........
luka toresan sebuah rasa
begitu perit dirasa
izinkanlah
aku berdiri semula
dalam genang gelodak hati
dalam keruhnya muara rasa
cuba ku rawat
dalam ngilu ukiran jiwa
aku pasrah kini
izinkanlah aku pergi
meninggalkan sekelumit rasa berbaki
agar aku mampu tersenyum lagi
dalam jejak belantara hati
yang dipermainkan
leraikanlah rasa ini
sesungguhnya aku terdampar
dalam pilu mengharap ihsanMU
Langgan:
Catatan (Atom)