Sabtu, 30 Julai 2011

BISIKAN RAMADHAN

Ya Allah.....di sejadah aku bersujud
merendah diri pada kekuasaanMu
menyerah diri pada hikmahMu
aku pasrah dengan ketentuanMu
menerima segala suratan hidupku
biar luka seribu impian
aku meredah belenggu kesedihan
berlari mencapai redho Mu

kebesaranMu dengan Ramadhan yang mulia
aku lemah di tabirnya malam
melalui kekosongan yang Kau pulangkan
dalam retak harapanku
aku terbujur lesu dalam amarahMu
terpedaya melawan kehendak
aku longlai dalam rindu yang tak dapat ku usir....

dalam derai airmata menyambut Ramadhan
aku semakin dihimpit duka
pada sebuah kehilangan
pada sebuah kenangan
pada sebuah cinta
yang tak mampu untukku selindungkan

telah ku duga hati akan berdarah
telah ku kira jahitan akan terburai
sakitnya jiwa dipukul hiba
pedihnya luka disiram rindu
Ramadhan ini tanpamu.....
aku kecundang dalam mencari mu
aku tewas dalam langkah ku
kerana......di balik sinar Ramadhan ini.....
aku sendiri tanpa dirimu

GAMITAN RAMADHAN GAMITAN RINDU

Tatkala umat Islam membilang hari menanti hadirnya Ramadhan yang mulia.....aku di sini mengira hari detik sayu berlabuh bila dirimu tiada lagi buatku.

6 bulan berlalu bagai terasa masa itu pantas berlari meninggalkan aku. Kau pergi meninggalkan sekeping hati yang sarat rindu dan duka. Dalam kembara sendu, ku rawat hati luka tanpa kesal di dada. Rindu yang bertandang tak mampu ku usir. Bagaimana mungkin ku tepis memori yang hadir sedang diri adalah milikmu.

Ramadhan yang tiba diiring sayu yang terpilu. Pertama kali kami bersendirian tanpamu. Dan aku pula dipisahkan darimu buat selamanya dan anakku juga terasing di utara. Sejak awal pemergianmu aku meruntun resah berlagu sayu. Bagaimana harus ku lalui Ramadhan ini tanpamu. Anak-anak sudahpun terasa ketiadaanmu. Sungguh berat ku pikul beban d hati.. ...kepayahan ini mengajar aku erti kecekalan. Ku kesat airmata hening dalam sendu meluah rindu padamu. Terhentikah waktu bersama cinta yang kau nisankan?

Sesungguhnya perjalanan Ramadhan akan sepi dan sayu tanpamu. Terjerat segala bahagia di jala kesedihan di gamit rindu Ramadhan.

Jumaat, 29 Julai 2011

DARA DI BIBIR SENJA



Dalam diam lagu tari hati itu semakin menjadi siulan. Entah kenapa lakaran liriknya bagai menepati rasa bermadah. Ku susun melodinya dari awal, ku gubah dan olah hingga siulannya mendapat tempat di hati.

Selembar kertas putih itu menyerah diri bagai terhampar menanti lukisannya. Aku masih di bangku.....merenung luas lautan di mata. Ada kebahagiaan tergambar. Seorang dara di pinggir kota, mengukir sekuntum senyum tatkala senja melabuhkan tirainya.

Dalam hati ada taman, dalam taman ada bunga..... cuma mawar desa yang mekar segar mewangi taman hati, menjemput resah mengundang rindu membelai sepi tatkala cinta menggigit diri. Pelangi petang makin hilang di sebalik cahaya rembulan. Riak bahagia tetap tak lekang dari sinar mata yang menawan itu. Teralpakah diri menjengah sepi yang bertamu?

Ku lihat sepasang mata itu melontar cinta paling tulus. Apakah egoisnya ia menafikan resah yang bersarang? Resah yang datang bersama cinta. Kerana cintanya berbagi dua.......miliki kasih beratus batu jauhnya......menyulam rasa di hadapan mata. Terjeratkah perasaan si dara yang kehausan? Atau mabukkah si dara di lambung badai cinta yang tiada kepastian.

Siulan itu terus berlagu......semakin hilang di telan senja. Dan tatkala bulan menghadirkan diri, sang matahari berkata, ku simpan sejenak bayangku di tabir megamu. Ku pinjamkan cahayaku padamu kiranya kau dapat menerangi malam ini dengan cahaya cinta paling indah buatnya.

Aku berlalu mencapai lembaran kertas yang telah aku lakarkan. Seorang dara dengan cintanya menanti kepastian dalam CINTA.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...