Jumaat, 2 Januari 2015

bicara permata

ketika seorang ibu berbohong
hatinya berkata ....
maafkan ibu permata
andai tak bisa
berlaku sejujurnya
antara hiba dan sayu
ketika tiada siapa
mengesat titis airmatanya
hanya menunduk di sejadahnya
melepas rasa hiba
rasa terluka
mengucap syukur
memohon rahmatNya

hidup baginya
umpama badai yang tak bertepi
resah di hatinya
bagai gerimis nurani
sayup pandangan terlontar
di wajah  rindu tak terungkap
di sebalik senyum
luka dan darah
tak terlihat di mata

resah itu indah baginya
selagi kasih tiada penamatnya...

Selasa, 4 November 2014

kembali asalku

dalam doa ku panjatkan kasih
dalam doa ku mohon redho Mu
bertali arus resah bertamu
membanjiri pantai hati
sedang tebingnya terhakis jua

dalam rindu itu
ku sulamkan kasih
tautan rasa yang tak terlihat
dalam diam memamah luka kelmarin
teguhkah sabar dinihari
andai gerimis bertukar wajah

dalam tenang itu
aku melihatmu
dalam bayangan semalam
lelah merindu tak terasa
kala senyummu terbayang

Tuhan....
gemalaikan rasa sebak itu buatku
pasakkan kasih hanya untukMu
di cerunan luka itu lenyapkanlah
rasa hiba yang bertamu
tika aku bertamu menyahut seruMu
labuhkanlah tirai dukaku

 
 

Sabtu, 27 September 2014

akhirnya ku temu jua

aku jadi rindu pada yang telah lama perginya.  tatkala aku terluka, aku sering menyendiri menilai rasa yang tertinggal.  ketika aku cuba bangun dengan rasa kasih ini, aku tersandung pada kejujuran yang palsu dipertontonkan.  manusia dengan bangga menghampar ilusi maya.  mencoret tinta luka di jendela hati dan pergi dengan sinis.

selama mana hati bertahan .............menampung sebak bertubi. Tuhan....andai hati ini kaca , pasti jiwa ini kecainya berdarah tertusuk sembilu tajam.  tapi tak terlihat di nyata.  kerna maya mempermain rasa.

ketika aku cuba berdiri di sisi, sedarku menepuk dada....berdiri aku tak setinggi mana, dudukku tak mencecah kaki ke lantai nyata.  

insan itu menjual rasa berulang. menjemput kesinisan. menjaja senyuman. mengheret kebencian.
aku di sini sama seperti dulu.  umpama hamparan buruk yang di tinggal.  tak mampu menyeri rumah.
namun............di sebalik rasa yang terkunci, dendamku tak menjadi.  aku tak mampu berpaling dengan nista.  kerna aku tidak terlahir untuk membenci.

kini aku berdiam dalam seribu kata tanpa penjelasan.  merenung jauh tinggalan kenangan. berharap ia pergi dengan terbitnya mentari esok hari.  tapi aku pasti, ia tak ada akhirnya lagi..............
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...